Selanjutnya adalah dawet legendaris dari jepara. Pikulan besar, yang satunya berisi dawet warna merah, satunya santan. Di atas salah satunya ada wadah tempat naruh pemanis/gula. Yang bikin terkesan adalah ibunya cepet banget meracik dawetnya, baik ditaruh di gelas kalau yang minum di tempat atau dibungkus plastik. Teknik mecahin es batunya unik, pakai gelas, bagian dasarnya tentu saja. Sayang beberapa waktu lalu sudah pensiun.
Jenang blendhung, campuran jenang putih dan jagung rebus, istimewanya jagungnya benar-benar empuk. Sego jagung cocok untuk mereka yang menghindari manis-manis gula, identik dengan jaman perjuangan, ingat lagu Caping Gunungnya Waldjinah. Tiwul, penganan warna coklat seperti dedak yang padat. Enak banget sama parutan kelapa. Gatot, dari ketela yang diolah hinga bentuknya hitam-hitam dan lengket-lengket.
Aneka jajanan tenongan. Gondang-gandung, sate telur puyuh, jenang merah delima atau ketan hitam, lemper, nagasari, semarmendem, gandos (ini asli enak), aneka gorengan, aneka mihun, capcay,kue-ku warna merah isi campuran gula jawa dan parutan kelapa, risoles,lumpia,martabak kecil. Masterpiece-nya adalah kue celorot/celurut yg dililit daun kelapa mengerucut.
Kue mata sapi dan corobikang. Berbentuk setengah bola hasil cetakan di atasnya ditaruh irisan pisang. Paduan hebat, rasa gurih dan manis. Sedang corobikang dominan manis. Penjualnya dari aku masih kecil hingga beberapa waktu lalu masih tetap sama. Mengenakan 'jarik', mengipasi 'anglo', dimana cetakan logam di atasnya. Telaten mengaduk adonan cair dan mengawasi kue yang dipanggang.
Hei kawan, semua jajanan itu ada di pasar Kebonpolo-Magelang. 'Tukang jajan ini mbesuk nek pas pulang akan mbeli n mborong banyak-banyak'. :D